Biodata Singkat
- Nama: Dhany Eka Rahadian, S. Sos
- Angkatan: 1998
- Email: dhanyekarahadian@yahoo.co.id
- Facebook: wildan_ibrahim@yahoo.co.id
Ayat Inspirasi
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
-At Taubah ayat 105-
***
Dhany Eka Rahadian adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Dhany, begitu ia biasa disapa, lahir di Majalengka, 23 Januari 1983. Sebagai putra daerah, kini Dhany mengabdikan dirinya untuk membangun Kabupaten Majalengka. Ilmu dan pengalamannya sebagai peserta Pelatihan Fasilitator Masyarakat Program Pendidikan Anak Usia Dini yang diadakan Depdiknas dan World Bank pada tahun 2008 membuatnya kini dipercaya sebagai Konsultan Program PPAUD Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Majalengka.
Selain menjadi konsultan di Depdiknas, Dhany aktif sebagai pejabat teras di Purna Paskibraka Indonesia Kabupaten Majalengka, KNPI Kabupaten Majalengka, ICMI Muda Kabupaten Majalengka, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), GM-FKPPI Kabupaten Majalengka, dan Badan Komunikasi Pemuda Koperasi (BKPK). Sungguh luar biasa bapak satu anak ini. Ketika ada amanah yang datang, maka itu bukanlah semata-mata beban, melainkan kesempatan untuk berkontribusi membangun peradaban yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan motto hidupnya: berpikir positif dan selalu berikan yang terbaik.
Menyibukan diri dengan kebaikan
Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Jika tidak menyibukan diri dengan kebaikan, pasti manusia akan disibukkan dengan keburukan.”
Itulah fitrah manusia. Hanya ada dua pilihan. Menyibukan diri dengan kebaikan atau disibukan dengan keburukan. Kita sendirilah yang menentukan pilihan.
Dhany Eka Rahadian memilih yang pertama. Bagi Dhany, masa muda haruslah diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Ini adalah masa pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Dhany menyibukan diri dengan aktif berorganisasi. Menurutnya, organisasi bisa membentuk karakter, kepribadian dan mengasah sifat kepemimpinan seseorang.
Perjalanan berorganisasi Dhany dimulai sejak SD sebagai ketua KOPSIS SDN Tonjong 2 pada tahun 1994. Jenjang pendidikan Dhany berlanjut ke SMP Negeri 2 Majalengka. Pada tahun 1997, Dhany mengambil peran penting dalam membangun Pramuka, Paskibra, dan OSIS dengan mengemban amanah sebagai ketua di ketiga lembaga tersebut.
Pada masa inilah Pramuka dan Paskibra SMPN 2 Majalengka mulai menggeliat prestasinya. Hal ini disampaikan oleh Sri Subakti dalam wawancara PROFIL ALUMNUS edisi perdana lalu. Hal ini pulalah yang menjadi dasar untuk menempatkan Dhany di PROFIL ALUMNUS edisi kedua ini. Dhany telah menjadi founding father Pramuka dan Paskibra SMPN 2 Majalengka.
Dhany mengenang masa SMP-nya dulu. Proses untuk menjadi ketua OSIS tidaklah mudah. Ada 5 (lima) calon ketua saat itu: Yon Murniawan, Arif Rahman Hakim, Ardini Adi Cahyani, Tatang Rustandi, dan dirinya sendiri. Setelah melalui proses Mukilas (Musyawarah Perwakilan Kelas), akhirnya Dhany terpilih sebagai ketua.
Dhany senang menjadi ketua OSIS karena bisa dikenal oleh sebagian besar warga sekolah dan diberi kemudahan dalam mengurus segala sesuatu. Amanah itu pula yang menuntutnya untuk selalu tampil dalam kondisi terbaik, seolah tanpa cacat. Hal yang membuat Dhany kurang nyaman di tengah gejolak masa mudanya. Namun, Dhany bersyukur karena mampu menahan diri dan melalui itu semua dengan baik.
Perjalanan organisasi Dhany berlanjut di SMA. Pada masa ini Dhany aktif sebagai Ketua Pakibra SMAN 1 Majalengka dan Sekretaris OSIS. Sementara di bangku kuliah, Dhany aktif sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa, Ketua Senat Fakultas, dan Wakil Presiden BEM selama menempuh studi di Universitas Sebelas April Sumedang.
Selain berorganisasi, pribadi yang mengaku SMART (Spesific, Measurable, Attainable, Rational, dan Tidak merokok) ini pun menyibukan diri di bidang akademik dan olahraga. Sebagai buktinya, pada masa SMP Dhany pernah menjadi Siswa Teladan se-Kabupaten Majalengka dan Juara Baca Puisi Tingkat SMP se-Kabupaten Majalengka. Sementara di bidang olahraga, Dhany senang bermain sepak bola. Walaupun belum bisa menembus tim inti sekolah, Dhany ikut menikmati pertandingan dengan mendukung rekan-rekannya dari pinggir lapangan.
Begitulah Dhany. Sejak kecil menyibukan dirinya dengan kebaikan. Itu semua membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang berkualitas.
“Beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengubah dunia!”
Bukan tanpa alasan seorang Soekarno mengucapkan kata-kata di atas. Peranan pemuda dalam perjalanan sebuah bangsa memang sungguh besar. Adalah pemuda yang mengadakan kongres yang mempersatukan beragam suku bangsa di Indonesia. Adalah pemuda yang mendesak kaum tua untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Adalah pemuda yang yang mengeluarkan Tritura di akhir kekuasaan orde lama. Adalah pemuda yang meneriakkan reformasi 1998 yang menggulingkan rezim orde baru.
Semoga Dhany mampu menjawab tantangan itu. Pemuda yang mampu membawa bangsanya ke arah yang lebih baik lagi.
Antara pemimpin dan pahlawan
Pada dasarnya semua manusia adalah pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Ketika ditanya apa arti pemimpin, Dhany menjawab, “Pemimpin bukanlah orang yang berkuasa, melainkan ia memberi kuasa kepada banyak orang. Pemimpin memiliki sifat hasta brata (8 sifat alam), yaitu memberi energi seperti matahari, menumbuhkan yang harus hidup layaknya bumi, memberi terang dalam gelap laksana bulan, setegas bintang, setegar samudera yang mampu menampung segala permasalahan, menjadi api yang mampu membakar semangat untuk berjuang, berwibawa ibarat mendung, namun tetap memberi kesegaran dan suasana menyenangkan seperti angin.”
Dan ke arah sanalah Dhany melangkah. Dirinya ingin menjadi pemimpin yang memiliki 8 sifat alam tersebut. Amanah yang banyak tentulah membutuhkan jiwa kepemimpinan yang mumpuni. Harus mampu memimpin diri sendiri dengan mengatur waktu untuk kegiatan di luar dan keluarga. Semua harus seimbang sesuai porsinya masing-masing.
Ada perbedaan mendasar antara pemimpin dan pahlawan. Setiap pahlawan adalah pemimpin. Namun, tidak semua pemimpin adalah pahlawan.
Menurut Dhany, pahlawan adalah orang yang rela berjuang dan berkorban demi kehidupan bangsa dan negaranya saat ini menjadi lebih baik dari sebelumnya, terlepas apakah yang bersangkutan masih hidup ataupun telah gugur.
Hitler adalah pemimpin yang hebat, tapi dia bukanlah pahlawan. Dia tidak membawa bangsanya ke arah yang lebih baik, malah menjerumuskan ke dalam fanatisme ras yang akhirnya menghancurkan bangsanya (Jerman). Lain halnya dengan Jendral Soedirman. Beliau adalah pahlawan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, sekaligus pemimpin perang yang luar biasa.
Indonesia memiliki banyak pahlawan dari masa ke masa. Sejak masa memperjuangkan kemerdekaan hingga masa pembangunan saat ini. Bagi Dhany, pahlawan Indonesia hari ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Selama memimpin, SBY berperan penting membawa Indonesia menjadi lebih baik dalam bidang politik berdemokrasi, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan citra bangsa di mata dunia internasional.
Semua orang bisa menjadi pahlawan. PROFIL ALUMNUS tertarik mengutip kata-kata Anis Matta, salah seorang pemikir bangsa, dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia.
“Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dalam sunyi yang panjang sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah atau dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukanlah malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung. Sungguh karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.”
Jika SBY telah menjadi pahlawan untuk bangsanya, maka jadilah kita pahlawan untuk lingkungan sekitar kita.
Membangun keluarga
Ada wanita luar biasa yang mendampingi pemimpin hebat. Seperti Khadijah yang mendampingi perjuangan Muhammad SAW dan Fatimah yang mendampingi Ali bin Abi Thalib. Dan bagi Dhany, wanita itu adalah Wita Juwita Sari. Mereka berdua merintis jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Pernikahan Dhany dan Wita telah dikaruniai seorang buah hati bernama Muhammad Wildan Ibrahim Rahadian.
Sesibuk apapun Dhany di luar, dirinya harus mampu membagi waktu untuk keluarga. Ya, karena keluarga ini adalah masa depannya. Jika ada waktu senggang, Dhany memilih menghabiskannya bersama keluarga. Bisa dengan menonton film-film action yang menjadi hobinya, atau menyantap sayur kacang merah dan pencok kacang panjang buatan istrinya, atau jalan-jalan bersama, atau bermain dengan si Rahadian kecil, atau apapun itu, yang terpenting adalah Dhany mampu menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilnya.
Dalam memperjuangkan kehidupan bagi keluarganya, Dhany menyukai kata-kata Abu Bakar Ash Shiddiq, “Ya Allah, letakanlah dunia ditanganku, jangan dihatiku.”
Dhany dan keluarga saat ini berdomisili di Perum Asabri, Simpeureum, Ciagasong Majalengka. Semoga keluarga yang dibinanya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Untuk mereka: guru SMP, teman-teman, dan adik siswa
Masa tiga tahun di SMP Negeri 2 Majalengka adalah kenangan yang tak mungkin terlupakan. Ketika ditanya tentang guru favoritnya dulu, Dhany menjawab beliau adalah Pak Didi, guru sejarah. Pak Didi telah mengajarkan sesuatu yang berharga tentang profesionalisme dan pengabdian. Jika mengajar, Pak Didi tidak pernah membawa buku, namun beliau sangat menguasai materi. Hal inilah yang membuat Dhany kagum. Guru lainnya yang menjadi guru favorit Dhany adalah Bu Henny (guru matematika), Bu Yeni (guru Bahasa Indonesia), Pak Memed (guru fisika), dan Pak Arifin (guru biologi).
Dhany memiliki banyak teman saat di SMP. Seperti, Yon Murniawan, Arief Rahman Hakim, Ardini Adi Cahyani, dan Tatang Rustandi, yang merupakan sahabat dan mitra kerja terbaik saat di OSIS. Sayang Dhany hilang kontak dengan sebagian besar temannya itu. Hanya ada beberapa yang masih suka bertemu. Dhany berharap, dimana pun teman-temannya kini, selalu diberikan yang terbaik dalam kehidupan.
Dhany mengaku bangga dengan perkembangan SMP-nya. Ada banyak perubahan, terutama pembangunan infrastruktur yang semakin lengkap dan lebih baik. Semoga itu semua terus memacu semangat untuk memberikan yang terbaik. Dhany berpesan untuk adik-adik siswa yang masih sekolah, “Banyaknya tugas sekolah, PR, kegiatan ekstrakurikuler, dimarahi guru, diejek teman, berbagai hambatan dan tantangan dalam belajar, serta perjuangan kehidupan di dalam dan di luar sekolah, jangan sampai membuat kita lelah, karena semua itu hanyalah akan menjadi lelucon manis yang akan kita ceritakan pada orang lain saat kita sukses nanti. Ingat, nakhoda yang handal hanya bisa terlihat saat badai membahana, jangan menyerah dan tetap semangat.”
Di akhir wawancara tidak lupa Dhany menyampaikan salam hangat untuk semuanya. Merupakan kebanggaan dan kehormatan bisa menjadi bagian dari keluarga besar SMP Negeri 2 Majalengka.
***
Biodata Singkat Penulis
- Nama: Dida Sadariksa
- Angkatan: 2003
- Email: akudida@yahoo.co.id
- Facebook: akudida@yahoo.co.id
- Blog: http://didasadariksa.wordpress.com

moga tiap edisinya mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik…
Nice profile….
Semoga dapat menjadi suri tauladan buat para alumnus…
^_^
kumaha kbarna???????
TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, BERMANFAAT BUAT BACAAN / REFRENSI UNTUK REGENERASI.
duh A eka hbat euy !