Biodata Singkat
- Nama: AKP. Iman Imanuddin, SH., SIK.
- Angkatan: 1995
- Email: imanuddin02@yahoo.co.id
- Facebook: imanuddin02@yahoo.co.id
Ayat Inspirasi
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
-At Taubah ayat 105-
***
Iman Imanuddin lahir di Majalengka, 5 Mei 1979. Putra kedua dari pasangan Ade Rahmat dan Andanyi Dewi ini berprofesi sebagai polisi. Sejak tahun 2009 yang lalu, Iman – begitu ia biasa disapa – mengemban amanah sebagai Kapolsek Cikampek, Karawang, Jawa Barat. Iman bergabung dengan kepolisian di tahun 2003. Dalam perjalanannya hingga sekarang, lulusan Akademi Kepolisian Semarang ini telah meraih beberapa penghargaan terkait penanganan kasus yang dihadapinya. Penghargaan-penghargaan tersebut diantaranya adalah penyidikan tercepat pengungkapan kasus perampokan Bank Lippo pada tahun 2004 dan pengungkapan kasus perampokan Bank BNI 46 Jakarta senilai 15 Milyar pada tahun 2009. Selain menjadi Kapolsek, Iman tengah disibukan dengan studi S2-nya di Jurusan Hukum UNPAD. Ia mengambil konsentrasi hukum pidana dalam studinya ini.
Harapan dan mimpi
Tahun baru identik dengan harapan dan semangat baru. Memasuki tahun baru 2010 ini, Iman memiliki beberapa harapan yang ingin dicapainya. Harapan pertama, memiliki momongan. Alhamdulillah sebentar lagi harapan ini akan segera terwujud. Saat ini, istri Iman, Kurnia Purnawati, sedang mengandung anak pertama mereka. Harapan kedua, kinerjanya sebagai polisi bisa terus meningkat dan lebih baik dari tahun sebelumnya.
Apa arti mimpi dalam kehidupan?
Iman mengatakan bahwa mimpi adalah tujuan hidup yang ingin dicapai. Mimpi adalah sesuatu yang harus kita upayakan untuk kita wujudkan. Hendak jadi apa kita nanti. Semua itu berawal dari mimpi.
Mimpilah yang membawa Iman menapaki jalan sebagai polisi. Itu adalah cita-citanya sejak kecil. Dan ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa mewujudkan mimpi itu. Maka, mulailah ia merancang langkah-langkah yang harus ditempuhnya. Ya, tidak hanya sekadar bermimpi kemudian bangun dalam keadaan tak berdaya. Manusia harus berusaha dalam rangka mewujudkan mimpi-mimpi mereka.
PROFIL ALUMNUS mengutip sebagian isi dari Novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro yang menjelaskan tentang mimpi.
Biarkan dia menggantung mengambang 5 cm di depan kening kamu.
Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apapun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah.
Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.
Biarkan keyakinan kamu, 5 cm menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma…
Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang lebih sering menghadap ke atas.
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.
Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan cuma seonggok daging yang punya nama.
Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja, bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan.
Tapi seorang yang selalu percaya akan keajaiban mimpi keajaiban cita-cita, dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terkalkulasikan dengan angka berapapun.
Dan kamu nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya, percaya pada 5 cm di depan kening kamu.
Mewujudkan mimpi menjadi polisi
Pada masa SMP, Pak Arifin, guru biologi, memanggil Iman dan memberikan brosur tentang SMA Taruna Nusantara. Syarat masuk SMA tersebut bisa dikatakan sulit. Ada serangkaian tes menanti, mulai dari tes kognitif hingga tes fisik. Hal ini sempat membuat Iman ragu. Apakah dirinya bisa? Pak Arifin terus memberikan dorongan dan meyakinkannya. Hal ini menyingkirkan keraguan dalam benaknya. Untuk persiapan, Iman terus belajar dan melatih fisiknya dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, kesabaran dan keuletan itu membuahkan hasil. Iman diterima di SMA Taruna Nusantara. Dan itulah bukti keajaiban mimpi. Iman selangkah lebih dekat kepada mimpinya menjadi seorang polisi.
Pasca lulus dari SMA Taruna Nusantara pada tahun 1998, Iman melanjutkan studi di Akademi Kepolisian Semarang. Di sini Iman meraih tiga bintang penghargaan, yaitu Bintang Trisakti Wiratama Emas (1999), Bintang Trisakti Wiratama Perunggu (2000), dan Bintang Tanggon Kosala (2002). Bintang Trisakti Wiratama adalah tanda prestasi tertinggi gabungan mental, fisik, dan intelek. Sementara Bintang Tanggon Kosala adalah tanda prestasi di bidang kepribadian. Kedua bintang serupa pernah diraih oleh Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 1970-an.
Pada tahun 2002, Iman lulus dari akademi kepolisian. Maka, terwujudlah apa yang menjadi mimpinya sejak kecil. Menjadi polisi. Iman telah membuktikan bahwa dirinya mampu.
Menjaga integritas polisi di tengah prasangka masyarakat
Menjadi seorang polisi bukanlah perkara mudah. Tidak hanya sekadar mengangkat senjata dan menangkap penjahat. Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, polisi berperan sebagai pemelihara ketertiban masyarakat, penegak hukum, serta pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Adalah kewajiban setiap polisi untuk melaksanakan peran ini dalam kesehariannya.
Stigma masyarakat yang menganggap polisi sebagai alat kekuasaan (orde baru) menjadi tantangan terbesar atas pelaksanaan peran baru di atas. Iman merasakan masih kuatnya stigma buruk masyarakat tentang citra polisi. Menanggapi hal ini, Iman tidak terlalu peduli. Biarlah masyarakat dengan pendapat mereka. Menurutnya, yang terbaik saat ini adalah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Iman sadar tantangan kepolisian ke depan akan lebih kompleks dan rumit daripada sekarang. Oleh karena itu, kepolisian harus mempersiapkan diri menghadapi itu semua. Iman percaya suatu saat nanti peran mulia sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat akan terwujud di semua elemen kepolisian.
Mengasah jiwa kepemimpinan
Seperti dua alumnus sebelumnya yang hadir di PROFIL ALUMNUS, Iman pun adalah mantan ketua OSIS atau mitratama di SMP Negeri 2 Majalengka. Bukanlah kebetulan alumnus yang dibahas di sini adalah para mantan ketua OSIS. Malcolm Gladwell berteori tentang rahasia kesuksesan dalam bukunya Outliers, “Untuk menjadi ahli dalam bidangnya seseorang harus menempa dirinya dalam bidang tersebut selama minimal 10000 jam.” Ya, 10000 jam. Jika dalam seminggu hari yang dipakai adalah senin sampai jumat selama masing-masing 8 jam setiap harinya, maka waktu yang dibutuhkan adalah 5 tahun untuk mencapai 10000 jam terbang tersebut. Para mantan ketua OSIS ini paling tidak telah menempa jiwa kepemimpinan mereka sejak masa SMP yang membuat mereka menjadi orang-orang terpilih di generasinya.
Iman mengemban amanah sebagai ketua OSIS pada tahun 1994. Saingan dalam pemilihan yang kemudian menjadi mitra kerjanya saat itu adalah Doni Fardiansyah (kemudian menjadi Ketua I), Karsana Aries Dianto Jaya (kemudian menjadi Ketua II), Dian Andriani (kemudian menjadi sekretaris ), dan Elin Herlina (kemudian menjadi bendahara). Satu hal yang perlu dicontoh, walaupun telah berpisah sekian lama, hubungan dan komunikasi diantara mereka masih terjaga dengan baik.
Berlanjut di SMA, Iman kembali mengasah jiwa kepemimpinannya di OSIS. Iman menjadi Ketua Seksi IX OSIS SMA Taruna Nusantara pada tahun 1997-1998. Sementara di Akpol, Iman dipercaya menjadi Dantonkorps I kie I yon WL (1999-2000), Lemustar Kie I yon WL (2000-2001), dan Danyonkorps yon TTT (2001-2002). Perjalanan dan pengalaman yang panjang itu membuat jiwa kepemimpinan Iman semakin terasah.
Terima kasih SMP Negeri 2 Majalengka
Secara khusus, Iman berterima kasih kepada keluarga besar SMP Negeri 2 Majalengka. Iman mengenang bahwa masa SMP adalah masa pertama dalam mencari pengakuan, mengaktualisasi diri, berorganisasi, berinteraksi dan banyak lagi hal-hal yang berkesan di sekolah.
Iman mengaku tidak memiliki guru favorit. Namun, dia menyebut nama Pak Arifin yang berperan besar memperkenalkannya dengan SMA Taruna Nusantara.
“Untuk para guru, bapak ibu terima kasih atas semua bimbinganmu. Anakmu sekarang bisa maju dan saya tidak akan pernah melupakan seluruh jasa-jasamu. Untuk adik-adik yang sedang belajar di SMP 2, jangan pernah bosan untuk menuntut ilmu. Masa depan bangsa dan negara ini ada dipundak kita. Jangan biarkan negeri ini tergilas oleh zaman karena kita tidak siap menjadi awaknya yang handal.”
Di akhir wawancara, Iman berharap tali silaturahim yang selama ini sudah terjalin dengan baik jangan sampai rusak. Iman mengajak untuk meningkatkan ukhuwah (persaudaraan) diantara alumni dan sekolah. Iman juga berharap SMP Negeri 2 Majalengka semakin maju dan mampu meningkatkan prestasi akademik dan non-akademiknya (ekstrakurikuler).
***
Biodata Singkat Penulis
- Nama: Dida Sadariksa
- Angkatan: 2003
- Email: akudida@yahoo.co.id
- Facebook: akudida@yahoo.co.id
- Blog: http://didasadariksa.wordpress.com

Tulisan Anda berinspirasi, teruslah berkarya…
http://mobil88.wordpress.com