Biodata Singkat
- Nama: Rudi Ano, SE.
- Angkatan: 1988
- Email: ruddyanno@yahoo.co.id
- Facebook: ruddyanno@yahoo.co.id
Ayat Inspirasi
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
-At Taubah ayat 105-
***
Rudi Ano adalah anak ketiga dari pasangan Max Ano dan Kartini. Nama “Ano” yang melekat di namanya merupakan nama sebuah marga dari Gorontalo, daerah asal ayahnya. Rudi Ano lahir di Jakarta, 28 Oktober 1971. Rudi – nama panggilannya – tumbuh dan berkembang di Jakarta hingga kelas 4 SD, sebelum akhirnya pindah dan meneruskan sekolah di Majalengka.
Saat ini Rudi mengemban amanah baru sebagai wakil direktur Rumah Sakit Delima Asih Sisma Medika Karawang sejak bulan Januari 2010. Sebelumnya Rudi aktif sebagai supervisor accounting di Rumah Sakit Harum Jakarta. Selain sebagai wakil direktur RS, Rudi aktif sebagai sekretaris DPRa salah satu partai politik di Bekasi.
Majalengka: teman lama dan SMP
Anak kota yang pergi ke kampung. Itulah Rudi. Bertolak belakang dengan mainstream yang ada dimana anak kampung yang pergi ke kota. Rudi pindah sekolah ke SDN Gunung Jaya Baribis saat kelas 4 SD. Di sana Rudi tinggal bersama keluarga, khususnya keluarga dari pihak ibu, yang memang berasal dari Majalengka.
Pada tahun 1985 Rudi menyelesaikan pendidikan dasarnya. Jika melihat nilai, sebetulnya ia bisa saja melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Majalengka yang saat itu merupakan SMP favorit. Namun, ia lebih memilih SMPN 2 Majalengka. Mengapa? “Karena banyak teman saya yang melanjutkan ke sana,” ujarnya sembari diiringi tawa.
Rudi tidak menyesal dengan pilihannya. Ia bersyukur menjadi bagian dari Keluarga Alumni SMP Negeri 2 Majalengka. Sudah dua puluh dua tahun berlalu sejak ia lulus dari SMP. Meninggalkan Majalengka dan melanjutkan hidup di Jakarta. Mata pelajaran favoritnya di SMP adalah biologi dan bahasa Indonesia. Kecintaannya kepada bahasa Indonesia mengantarnya menjadi juara lomba baca puisi pada tahun 1987. Untuk guru favorit, Rudi memilih Pak Arifin, guru biologi. Sosoknya yang low profile dan metode mengajarnya yang jelas menjadi alasan mengapa Rudi memilih Pak Arifin.
Ayah tiga orang anak ini hanya menghabiskan waktu 6 tahun berada di Majalengka. Mulai dari kelas 4 SD hingga lulus SMP. Namun, itu sudah cukup untuk membuatnya mencintai Si Kota Angin. Pada Lebaran Idul Fitri yang lalu Rudi membawa isteri dan anak-anaknya untuk bersilaturahim dengan keluarga pihak ibu di Baribis. Setiap kali datang ke Majalengka, ia rindu ingin bertemu teman-teman lamanya. Sebagai pribadi care dan mudah bergaul, Rudi memiliki banyak teman. Ia menyebut beberapa nama, seperti Slamet (Cicenang), Wawan Setiawan (Majalengka), Yoga Nugraha(Tonjong), Syarifudin, Ricky (Kadipaten), Beny Bayunirwan (Tonjong), dan Edi (Cigasong). Sayang ia kehilangan kontak dengan mereka. Rudi berharap bisa kembali menjalin silaturahim, khususnya melalui media PROFIL ALUMNUS ini.
Paradigma kesuksesan: kombinasi ikhtiar, doa, dan tawakal
Setelah lulus SMP, Rudi memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Jakarta. Mengikuti kakaknya yang sudah lebih dahulu ke sana. Ia mengajukan pendaftaran ke SMAN 13 Jakarta, salah satu SMA favorit di Jakarta Utara. Namun, ternyata pendaftaran di sana sudah ditutup. Begitu pun hampir semua sekolah negeri lainnya. Akhirnya, ia memilih melanjutkan sekolah di SMK swasta di dekat rumahnya, SMK Kencana. Pilihan jatuh ke SMK Kencana karena posisinya yang dekat dengan rumah. Kondisi Jakarta saat itu dinilai rawan tawuran pelajar sehingga sangat rentan jika memaksa melanjutkan ke sekolah negeri yang jauh.
Pada fase SMK ini, Rudi mulai aktif berorganisasi. Pada tahun 1992 Rudi mengemban amanah sebagai wakil ketua OSIS SMK Kencana. Dalam perjalanan selanjutnya, pengagum Hasan Al Banna dan Yusuf Qardhawi ini selalu aktif di organisasi. Di kampus ia aktif di senat mahasiswa dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Rudi menyadari ada banyak pelajaran hidup dalam berorganisasi. Belajar menjadi pemimpin yang mampu memimpin diri sendiri dan orang lain. Walaupun sibuk berorganisasi, ia mampu berprestasi di bidang akademik dengan selalu meraih juara umum sekolah di setiap akhir tahun ajaran (1989, 1990, dan 1991).
Cita-cita Rudi adalah menjadi seorang insinyur. Untuk mewujudkannya, pemilik moto hidup “jika tidak mengubah, maka kita akan mati” ini belajar dengan keras sebagai persiapan mengikuti tes masuk UMPTN (sekarang SNMPTN) ke perguruan tinggi negeri. Namun, manusia hanya bisa berencana dan berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Rudi gagal masuk PTN. Ia mengaku kecewa dan sedih karena tidak bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.
Rasa sedih Rudi kian bertambah karena orang tuanya tidak akan membiayai kuliah jika bukan di perguruan tinggi negeri. Padahal ia ingin sekali kuliah. Namun, dirinya tidak menyerah. Ia harus bangkit. Rudi melamar kerja di sebuah perusahaan baja dan diterima di bagian controlling. Setelah beberapa lama, ia pindah ke perusahaan Sismadi Group dan bekerja di bagian keuangannya. Selama bekerja, Rudi mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Setelah dirasa cukup, ia memilih Akademi Akuntansi Muhammadiyah (AAM) Jakarta sebagai tempat kuliahnya. Rudi mengambil jurusan akuntansi.
Setelah lulus dari AAM, pengemar nasi goreng dan es campur ini mendapat beasiswa untuk mengambil ekstensi S1 di STIE Muhammadiyah Jakarta. Beasiswa diberikan karena Rudi termasuk mahasiswa berprestasi di AAM. Ia meraih penghargaan sebagai mahasiswa terbaik 2 AAM pada tahun 1996. Akhirnya, Rudi merampungkan kuliah sarjananya dari STIE Muhammadiyah pada tahun 1999 dengan meraih predikat lulusan terbaik. Rudi mendapat kesempatan untuk memperoleh beasiswa S2 di STIEM. Namun, ini tidak diambilnya. Ia ingin fokus di karier sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengambil S2. Rudi bercita-cita melanjutkan S2 di Universitas Indonesia.
Rasa sedih dan kecewa adalah hal yang manusiawi dalam kehidupan. Adalah normal jika kita merasakannya. Rasa itu menjadi salah tatkala kita terlalu larut seolah segalanya telah berakhir. Kita harus bangkit dari keterpurukan. Kembali melangkah. Menatap ke depan. Fokus pada apa yang menjadi tujuan.
Rudi Ano telah mencontohkannya kepada kita. Gagal menjadi seorang insinyur tidak membuatnya kalah. Impiannya memang kandas, tapi bukan berarti kemudian menyerah dalam hidup. Rudi yakin dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Walaupun jalan itu berliku, sulit, dan mendaki. Rudi membuktikan bahwa hidup ini memiliki banyak pilihan. Baginya, kegagalan UMPTN adalah semacam pertanda bahwa Allah telah mempersiapkan masa depan yang lain baginya. Bukan sebagai insinyur, melainkan sebagai akuntan. Sebuah profesi yang kini mengantarnya menduduki jabatan wakil direktur rumah sakit. Tugas kita hanyalah berusaha dengan sebaik-baiknya. Di atas itu semua, biarlah tangan Tuhan yang bekerja. Dan apapun yang dipilihkan Tuhan untuk kita, yakinilah bahwa itu yang terbaik. Terbaik untuk kita. Terbaik untuk orang-orang di sekitar kita.
Kesuksesan, menurut Rudi, adalah sebuah proses yang syarat dengan usaha, kerja keras dan kemauan untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Hal yang paling mendasar dalam mencapai kesuksesan adalah memiliki keinginan yang kuat (azzam) untuk berubah ke arah yang positif, tidak mudah menyerah, tidak puas dengan kondisi nyaman (comfort zone), berdoa, dan tawakal kepada Allah. Rudi bersyukur dengan apa yang sudah dicapainya sekarang ini. Karier yang terus menanjak dan keluarga yang bahagia. Rudi menikah saat masih kuliah semester 7. Dari pernikahan itu, Rudi dan Ratna, isterinya, dikaruniai tiga orang anak, yaitu Fahmi, Fikri, dan Aisyah. Walaupun sudah dinilai sukses, Rudi masih belum puas. Masih banyak mimpinya yang belum terwujud. Tidak boleh ada rasa puas dalam hidup sehingga kemudian kita hanya berdiam diri. Sesungguhnya itu berarti sama saja kita berjalan mundur karena orang lain di sekitar kita terus maju ke depan.
Menempuh jalan dakwah
Ada catatan menarik dari sisi hidup Rudi yang lain, yaitu jalan dakwah yang dipilihnya. Rudi terjun di dunia dakwah sejak kuliah di tingkat kedua. Kegelisahan akan kondisi rakyat yang carut-marut mendorongnya untuk aktif secara langsung. Perjalanan hidup mengantarnya pada pemikiran bahwa cara yang terbaik adalah dengan membangun kekuasaan agar bisa menghasilkan kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat. Komitmen dakwah Rudi bak gayung bersambut dengan lahirnya PK (nama sebelum PKS) di tahun 1998. Rudi pun langsung aktif di partai dakwah tersebut hingga kini.
Menurut Rudi, paling tidak ada 5 (lima) urgensi dakwah dalam kehidupan:
- merupakan jalan hidup Rasul dan pengikutnya;
- merupakan karakter orang-orang yang beriman;
- merupakan ciri umat yang terbaik;
- sikap hidup orang-orang yang beriman; dan
- tali pemersatu umat.
Rudi memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti negeri ini akan dipimpin oleh orang-orang yang bersih dan punya rasa malu, taat beribadah, dan memiliki skill yang baik.
Dalam menjalankan dakwah, Rudi memiliki dua buku favorit, yaitu “Untukmu Kader Dakwah” dan “Salahnya Kodok”. Buku Untukmu Kader Dakwah ditulis oleh seorang ulama yang digelari Bapak Tarbiyah Indonesia, Ustad Rahmat Abdullah. Sedangkan, buku Salahnya Kodok ditulis oleh Muhammad Fauzil Adhim yang isinya tentang bagaimana menumbuhkan kreativitas dan kepribadian anak sejak dini, sekaligus menanamkan nilai-nilai tauhid melalui peristiwa sehari-hari.
Harapan alumnus
Di akhir wawancara Rudi memberikan beberapa pesan dan kesan. Adalah sungguh menyenangkan bisa bersekolah di SMP Negeri 2 Majalengka. Memiliki banyak teman yang baik. Memiliki guru-guru yang hebat. Rudi mengaku rindu ingin bertemu dan bersilaturahim dengan seluruh elemen sekolah.
Rudi meyakini bahwa dalam melakukan proses pendikan, kita harus mengikutsertakan hati. Jika hati-hati ini bertemu dan berpadu dalam satu tujuan yang sama, maka terciptalah accelerated learning. Percepatan dalam pembelajaran. Dari proses pendidikan ini, semoga suatu saat nanti akan lahir generasi yang lebih baik. Generasi shalih yang selalu bersemangat untuk hidup sukses.
Rudi tersenyum bahagia dengan kondisi sekolah sekarang yang jauh lebih baik. Dulu saat ia masih sekolah, gedung (aula) belum bisa dipakai. Kini fasilitas yang ada sudah semakin baik. Rudi berharap itu semua bisa meningkatkan prestasi sekolah.
Akhirnya, Rudi berpesan bagi para siswa untuk selalu bersemangat dalam belajar. “Akan ada banyak rintangan di perjalanan. Akan ada pengorbanan yang harus dilakukan. Namun, tidak ada kata menyerah. Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan,” pungkasnya.
***
Biodata Singkat Penulis
- Nama: Dida Sadariksa
- Angkatan: 2003
- Email: akudida@yahoo.co.id
- Facebook: akudida@yahoo.co.id
- Blog: http://didasadariksa.wordpress.com

maz desa baribisnya sebelah mna…?
sep, narosna langsung ka kang Ruddy we atuh. kirim email + add di fesbuk. alamat email fesbukna sami jeung nu di luhur.
SMP NEGERI 2 MAJALENGKA angkatan 88 mau menyelenggarakan temu silaturahim tgl 4 september 2011. Bisa minta bantuannya kontak person Pak Rudi Ano?
Hatur nuhun
Beliau bisa dikontak via alamat email yang ada di atas.